Thursday, May 7, 2026

Bangga Sibuk, tapi Hancur di Dalam: Hustle Culture dan Krisis Diam-Diam Generasi Muda


Scroll sebentar di media sosial mana pun, dan kamu akan menemukan seseorang yang memamerkan jadwal kerja mulai pukul empat pagi, menggabungkan pekerjaan penuh waktu dengan freelance sambil tetap "produktif" di akhir pekan. Caption-nya selalu serupa: jangan berhenti sampai bangga, jangan menyerah, zona nyaman adalah musuh kesuksesan. Narasi itu terdengar heroik hingga tubuh dan pikiran mulai memberikan sinyal yang tidak bisa diabaikan. Hustle culture, atau budaya yang mengagungkan kerja keras tanpa henti sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan, telah menjadi gaya hidup yang begitu melekat pada generasi muda, khususnya milenial dan Generasi Z. Di balik estetika produktivitas yang mentereng itu, tersimpan ancaman serius yang jarang dibicarakan secara terbuka: krisis kesehatan mental yang menggerogoti jutaan anak muda secara diam-diam.

            Hustle culture bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba. Menurut Ayub & Sulaeman, fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh Wayne Oates pada tahun 1971 dalam bukunya Confessions of a Workaholic: The Facts about Work Addiction. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh dunia seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Jack Ma semakin mempopulerkan perilaku bekerja melampaui batas waktu normal sebagai standar kesuksesan. Secara definitif, hustle culture merupakan cara hidup sebagian karyawan yang memaksakan diri untuk bekerja lebih keras dari yang diperlukan tanpa istirahat demi meraih keberhasilan. Pada penelitian Iskandar Novi Rachmawati & Rhoma, menambahkan bahwa budaya ini tidak hanya berlaku pada individu, tetapi kerap diadopsi oleh sistem perusahaan yang mendorong karyawan untuk menyelesaikan tugas dengan cepat dan akurat, sambil menumbuhkan keyakinan bahwa imbalan setimpal akan didapatkan meski kenyataannya tidak selalu demikian.

Generasi muda Indonesia berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap jebakan hustle culture. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 yang dikutip oleh Iskandar Novi Rachmawati & Rhoma, sebanyak 25,87% dari total populasi Indonesia termasuk dalam kategori generasi milenial, sementara angka usia produktif secara keseluruhan mencapai 70,72%. Di sisi lain, lapangan kerja di Indonesia masih sangat sempit kurang dari 20% tenaga kerja yang tersedia berhasil terserap. Kondisi ini mendorong banyak anak muda untuk memburu pekerjaan apa pun, bahkan yang tidak sesuai dengan minat mereka, sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tekanan ini semakin diperburuk oleh algoritma media sosial yang tanpa henti menyajikan gambaran kesuksesan orang lain. Banyak freelancer Generasi Z yang menampilkan pencapaian finansial dan gaya hidup mewah di platform seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn, menciptakan narasi bahwa bekerja tanpa henti adalah satu-satunya kunci keberhasilan dan siapa pun yang terlihat tidak sibuk dianggap tertinggal.

Ketika tubuh dan pikiran dipaksa beroperasi melampaui kapasitasnya tanpa jeda memadai, konsekuensinya sangat nyata. Metris mengidentifikasi setidaknya tiga dampak negatif utama hustle culture: stres dan depresi, ketidakseimbangan kehidupan, serta gangguan kesehatan fisik. Seseorang yang memaksakan diri bekerja secara berlebihan dipaksa berpikir tanpa henti untuk menemukan solusi dan menghasilkan ide baru sebuah kondisi yang secara konsisten memicu stres berat, bahkan depresi klinis. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional pun hancur, karena pelaku hustle culture cenderung mengorbankan waktu untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Gen Z yang memilih pekerjaan freelance akibat tekanan hustle culture justru mengalami kelelahan mental yang lebih parah, karena tidak ada batas waktu yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, ditambah rasa terisolasi secara sosial serta ketidakstabilan ekonomi yang terus membayangi.

Penyebaran hustle culture di kalangan generasi muda bukan terjadi secara kebetulan ada faktor-faktor sistemis yang mempercepatnya. Metris dan Sulaeman mengidentifikasi tiga faktor utama. Pertama, kemajuan teknologi: kehadiran smartphone mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi, karena pekerjaan kini bisa diakses dari mana saja dan kapan saja. Kedua, konstruksi sosial: banyak orang masih mengukur kesuksesan dari status sosial dan kekayaan materi, sehingga semakin tinggi dan cepat kenaikan karier seseorang, semakin ia dianggap berhasil. Pemikiran ini mendorong anak muda untuk bekerja tanpa henti demi diakui lingkungannya. Ketiga, toxic positivity: dorongan untuk selalu bersikap positif bahkan dalam kondisi kelelahan ungkapan seperti "jangan menyerah, kamu pasti bisa!" yang terus-menerus dikumandangkan justru membuat banyak anak muda enggan mengakui tekanan yang mereka rasakan dan terus memaksakan diri melampaui batas wajar.

Di tengah gambaran yang tampak suram ini, penting untuk mencermati bahwa hustle culture tidak sepenuhnya bersifat negatif namun kuncinya ada pada kendali diri dan keseimbangan. Iskandar Novi Rachmawati & Rhoma menyimpulkan bahwa hubungan antara hustle culture dengan motivasi dan produktivitas kerja bersifat dua arah: pada kondisi dan situasi tertentu, hustle culture dapat memberikan dorongan positif untuk mencapai target dan mengembangkan diri. Namun, tanpa pengendalian yang matang dan penetapan skala prioritas yang jelas, gaya hidup ini berisiko menurunkan produktivitas secara drastis dan merusak kesejahteraan psikologis. Hal senada juga ditegaskan oleh Adawiyah, yang menemukan adanya pergeseran paradigma di kalangan Generasi Z: seiring meningkatnya kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental, banyak anak muda mulai menolak nilai-nilai lama yang menormalisasi kerja tanpa istirahat dan mulai memahami bahwa produktivitas sejati bukan tentang seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan tentang kemampuan mengatur waktu, menetapkan prioritas, dan menjaga keseimbangan hidup.

Hustle culture bukan sekadar tren motivasi kerja, ia telah berkembang menjadi mekanisme sosial yang menciptakan tekanan psikologis, standar pencapaian yang tidak realistis, dan konstruksi makna produktivitas yang mengorbankan kesejahteraan pribadi. Generasi muda Indonesia, yang tumbuh di antara sempitnya lapangan kerja, derasnya arus media sosial, dan tingginya ekspektasi sosial, berada di garis depan risiko tersebut. Kesuksesan sejati tidak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi yang runtuh. Sudah saatnya kita berani mempertanyakan narasi yang selama ini kita terima begitu saja: bahwa lelah adalah lencana kehormatan dan rehat adalah kejatuhan. Generasi muda berhak atas definisi sukses yang lebih manusiawi yang mengakui bahwa merawat diri sendiri bukan egoisme, melainkan prasyarat untuk benar-benar berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Referensi :

Adawiyah, R. (2025). Di Balik Kilau Hustle Culture: Gen Z dan Beban Mental Pekerjaan Freelance Kajian Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk. Prosiding KONAS NDO: Konferensi Nasional Mahasiswa Sastra Indonesia. UIN Sunan Ampel Surabaya, 6 November 2025, 473–493.

Iskandar, R., & Rachmawati, N. (2022). Perspektif "Hustle Culture" Dalam Menelaah Motivasi Dan Produktivitas Pekerja. JUPEA: Jurnal Publikasi Ekonomi dan Akuntansi, 2(2), 108–117.

Metris, D., Sulaeman, M., & Wakhidah, E. N. (2024). Hustle Culture: Mencermati Tren Perilaku Yang Mendorong Kesuksesan Tanpa Henti. AL-KALAM: Jurnal Komunikasi Bisnis dan Manajemen, 11(1), 111–131.

Tuesday, September 6, 2022

 Fungsi dan Peran Sosiologi dalam Mengkaji Gejala Sosial

Oleh: Bellatrix, Tiara, Widia, Zalfa, Chindy, dan Luna

 

Sebagai peserta didik baru di SMA Negeri 2 Cibinong tahun ini, sudah sepatutnya kami sebagai penulis serta pembaca memahami tentang ilmu sosiologi di lingkungan masyarakat. Jika kita lihat definisi dari salah satu ahli sosiologi, menurut Soerjono Soekanto sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum dalam kehidupan masyarakat. Nah, objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Semua hal yang berhubungan dengan aktivitas masyarakat, baik dalam bentuk interaksi, perubahan, struktur sosial, dan kebudayaan maka itu semua disebut sebagai objek kajian sosiologi.

Objek kajian sosiologi terbagi menjadi 2, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah seluruh aspek yang mempengaruhi kehidupan sosial. Dibagi lagi menjadi 2, objek material fisik seperti kendaraan, uang, ponsel, dan pasar. Sedangkan objek material nonfisik seperti ide, gagasan, dan tradisi. Contohnya, kami sedang belajar sosiologi bersama Bu Ifa di dalam kelas dan tetap menjaga protokol kesehatan. Nah, kelas adalah bentuk dari objek material fisik, sedangkan protokol kesehatan adalah bentuk objek material nonfisik. Lalu, objek formal adalah proses atau fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Contohnya, dalam proses pembelajaran kami dan Bu Ifa ternyata ada sesi tanya jawab, nah proses itulah yang menjadi objek formal.

Adapun fungsi yang dimiliki objek kajian sosiologi sebagai berikut;

1.       Penelitian

Dengan penelitian akan diperoleh suatu rencana pemecahan masalah.

2.      Pembangunan

Sosiologi berfungsi untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan. Pada tahap perencanaan, hal yang harus diperhatikan adalah kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan, hal yang harus dilihat adalah proses perubahan sosial.

3.      Perencanaan sosial

Mempersiapkan masa depan masyarakat yang bertujuan untuk mengatasi munculnya berbagai masalah yang terjadi dalam masyarakat.

4.      Pemecahan masalah sosial

Metode dalam penyelesaian masalah sosial dibagi menajadi 2 metode preventif, yakni metode untuk mengatasi masalah sosial sebelum terjadinya penyimpangan sosial, kemudian metode represif, yaitu metode untuk mengatasi masalah sosial setelah terjadinya penyimpangan sosial.

Selain itu, sosiologi juga berperan penting dalam kehidupan sosial untuk membangun masyarakat. Peranan sosiologi, yaitu;

  1. Sosiologi sebagai alhi riset
  2. Sosiologi sebagai konsultan kebijakan
  3. Sosiologi sebagai praktisi
  4. Sosiologi sebagai guru

Dengan kita mengetahui fungsi dan peranan sosiologi dalam mengkaji gejala sosial, maka diharapkan kita dapat memecahkan masalah sosial dengan berpikir rasional, dapat melaksanakan interaksi sosial dengan baik, dan menganilisis tindakan sosial. Fungsi sosiologi sangat dibutuhkan terutama berkaitan dengan penelitian, pengolahan data, dan perencanaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Para sosiolog dapat berperan sebagai konsultan kebijakan, praktisi, dan guru atau pendidik. Penelitian mengungkapkan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Atas dasar ini, kita semua harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan tujuan mengasah kemampuan bersosial.

 

 

 

 

 

Monday, August 23, 2021

Biantara Paturay tineung

Nyusun naskah biantara

Tema : Paturay tineung (perpisahan) 

  1. Salam pamuka 
  2. Bubuka 
  3. Eusi 
  4. Panutup 
  5. Salam panutup 

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Sampurasun,

Sateuacanna manga urang sami-sami ngunggahkeun puji sinareng syukur ka Gusti nu Maha Agung margi mung ku barokah sareng inayahna nu parantos maparin kani'matan ka urang sadayana, dugi ka urang dina waktos ieu tiasa riung mugpulung, patepung lawung patepang raray.


Solawat sinareng salam mugia ngocor ngagolontor ka jungjunan urang Kanjeng Nabi Muhammmad SAW. kayalan mugia sing tumerus ka kulawargina, para karabatna, para sahabatna, para alim ulama, dugi ka urang sadayana salaku umatna.


Ibu bapa hadirin nu dipikahormat,

Wilujeung sumping ka sadaya tatamu uleman, para sepuh, para guru, utamina ka Ibu Bapa Kepala Sakola katut rĂ©ngrĂ©nganana hapunten bilih dina cara panampian kirang nyugemakeun kirang tata titi duduga peryoga. Kuring hatur nuhun parantos dipasihan kasempetan nyarios dina acara "Paturay Tineung" murid SMP kelas 9 ieu. Minangka wawakil murid anu nembĂ© rĂ©ngsĂ© ujian sareng lulus di sakola ieu, abdi sadayana sadar yen salami tilu taun tos tinangtos seueur ngalakukeun hal-hal anu matak musingkeun sareng pikakeuheuleun. Kumargi sakitu, abdi sadaya seja neda sih hapuntenna tina samudayaning kalepatan. Teu hilap ka adi-adi sadaya nu masih keneh aya di bangku sakola, mugi sing getol diajar, sareng sing taat kana piwuruk Bapa sareng Ibu Guru. Mugia sakola ieu sing langkung nanjeur ku prestasi-prestasina katut pangeusina diharepkeun sing tiasa ngajagi ngaran ieu sakola.


Ibu bapa hadirin nu dipikahormat,

Tangtos seueur keneh nu hoyong dipisanggem mahIntina mah sim kuring sadayana ngaraos bingah ku parantos lulus. Ngahaturkeun nuhun kana elmu kaweruh sareng pangalaman nu tos dipaparinkeun ka sim kuring sadayana, mugia janten amal kasaean kanggo sadayanakenging ganjaran anu saageung-ageungna ti Gusti nu Maha Agung. Kalih ti eta sim kuring saparakanca seja neda pidua ka Bapa Ibu Guru supados tiasa neraskeun diajar ka sakola nu langkung luhur.


Panutup catur pamungkas caritaHapunten bilih aya tutur saur nu teu kaukurrĂ©ka basa nu pasaliaRumaos masih dina tahap diajar. 

Saninten buah saninten, 

Dicandak ka parapatan,

Hapunten abdi hapunten,

Bilih aya kalepatan.


Billahi taufik walhidayahwaridho walinayahwaafumingkum, wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.